Sabtu, 25 Mei 2013

Seribu Cahaya Harapan Pupus di Puncak Perayaan Waisak 2013

Diposting oleh adellia dian di 17.48 0 komentar
Puncak perayaan waisak di Borobudur...
suatu prosesi yang sangat menyedot perhatian seluruh umat, tidak hanya umat Buddha tapi semua orang dari berbagai kalangan termasuk wisatawan asing.
Tahun ini sudah kedua kalinya saya mengikuti prosesi sakral ini. Tahun sebelumnya saya menghadiri prosesi ini bersama seorang teman. Dan mengingat betapa sakral & mengesankannya perayaan Waisak & festival lampion saat itu, tahun ini saya pun mengajak keluarga untuk ikut serta.
Hujan yang sudah mengguyur sejak sore tiba-tiba surut jelang detik-detik perayaan, hal itu sama persis seperti tahun sebelumnya, menurut kepercayaan jelang prosesi para Bhante dan Biksu akan mendoakan agar Sang Buddha Gauthama menahan hujan atau menggesernya ke kawasan lain agar tidak mengganggu jalannya acara.
Setiba di sana, keadaan justru jauh lebih kacau dibanding tahun sebelumnya. Pejabat negara (Menteri Keagamaan) dan pejabat daerah (Gubernur Provinsi Jawa Tengah) sebagai tamu VVIP yang di tahun sebelumnya datang tepat waktu bahkan sebelum gerbang masuk dibuka, tahun ini terlambat sekitar lebih dari 30 menit. Hal itu membuat proses pengamanan diperketat, pengunjung harus melewati 2 lapis pemeriksaan metal detector. Sayangnya panitia dan aparat tidak memperhitungkan jumlah pengunjung yang hadir sehingga memakan waktu amat sangat lama tersendat di kedua lapis penjagaan itu.
Keadaan yang sangat chaos ini juga membuat panitia kewalahan, barisan terdepan tempat saya tahun lalu juga duduk sudah terjejal sehingga banyak orang hanya mendapat tempat di bagian belakang.
Bagi saya, perayaan Waisak tahun ini sangat berkurang tingkat kesakralannya, sebab pengunjung yang tidak mendapat tempat di depan (mungkin mereka lupa bahwa bagaimanapun ini adalah prosesi keagamaan) ribut sepanjang acara, entah ribut dengan panitia atau dengan orang di depannya yang menghalangi pandangan.
Tak lama setelah rombongan menteri datang (yang disambut dengan cemoohan dan teriakan "HUUUUUU" terutama dari barisan belakang) hujan deras kembali mengguyur. Hujan bagi umat Buddha adalah berkah, namun tahun ini percaya atau tidak seorang ibu yang kebetulan adalah umat Buddha yang kebetulan duduk di samping saya berkata "sepertinya ini tanda-tanda alam Sang Buddha tidak merestui prosesi ini, karena kesakralan berkurang, umat banyak terhalang di depan hanya karena 2 pejabat yang terlambat datang padahal Buddha tidak mengenal adanya kasta, Bapak Gubernur yang seharusnya memberikan sambutan justru memanfaatkan untuk membicarakan kampanye di atas altar /panggung
utama dan semua itu membuat secara tidak langsung orang terpancing emosinya sehingga tidak menciptakan kedamaian di bumi"
Hujan mengguyur sampai akhir acara sehingga 1000 lampion yang merupakan perlambang pengharapan hidup dan doa yang kita panjatkan pun batal mengudara....
Selain itu saya melihat banyak turis asing yang meninggalkan lokasi sebelum acara selesai, padahal tahun sebelumnya merekalah yang paling antusias dengan prosesi dan bahkan mereka ikut dalam prosesi Pradhaksina (jalan mengelilingi pelataran candi sebanyak 3 kali sambil membawa lilin dan berdoa).
Semoga hal ini bisa menjadi pembelajaran dan perbaikan bagi panitia untuk pelaksanaan Perayaan Waisak di tahun-tahun berikutnya agar tidal menimbulkan kekecewaan bagi orang-orang yang sudah beberapa kali datang kesana dan tidak menimbulkan kesan buruk dan trauma bagi mereka yang baru pertama kalinya mencoba datang.
Mengutip pernyataan salah seorang turis asing yg saya temui malam itu "Rain, people, mud, traffic, darkness, boredom, chaos, this is the worst Vaisak Festival I've ever seen. Never going to return again" meskipun di antara mereka masih ada yang berminat tetap datang kembali tahun depan untuk menyaksikan pelepasan lampion...seribu cahaya pengharapan umat manusia di muka bumi.
 

Life is a mixture between blueberry & cotton candy Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos