Kamis, 31 Januari 2013
Solo Heritage Escape: Kampoeng Batik Laweyan
Setelah pagi hingga siang hari saya menghabiskan waktu meng-explore Museum Batik House of Danar Hadi, sorenya saya memutuskan untuk berkunjung ke Kampung Batik Laweyan. Tempat ini direkomendasikan oleh dosen saya yang kebetulan asli Solo, beliau merekomendasikan beberapa tempat, namun karena saya mencari tempat yang mengandung unsur heritage dan fashion, maka ke tempat inilah kaki saya melangkah. Sebetulnya di Solo sendiri ada dua Kampoeng Batik, yaitu Kampoeng Batik Laweyan dan Kampoeng Batik Kauman. Kali ini ke Laweyan dulu ya...
Kawasan Kampung Batik Laweyan ini letaknya agak masuk ke sebuah jalan kecil, sepintas memang tampak seperti perumahan warga biasa....
malah sepintas, lokasinya mirip perumahan warga yang ada di belakang Kraton Yogyakarta.... di sini saya justru tertarik dengan arsitektur rumah-rumah warga yang mengesankan tempo doeloe...
Untuk aktivitas perbatikan sendiri, menurut warga yang saya temui tadi, bentuknya lebih ke arah industri batik rumahan, jadi konsepnya "rumahku galeriku". Tapi uniknya adalah, di sini kita bisa belajar alias les membatik, beberapa industri rumahan di sini sempat menerima kunjungan anak-anak sekolah bahkan rombongan wisatawan manca negara yang tertarik untuk belajar membatik. Wah seru sekali ya, kalau di Museum Danar Hadi kita bisa melihat proses membatiknya, di Laweyan kita bisa mempraktekkan prosesnya langsung. Sebetulnya ada dua tempat yang direkomendasikan oleh dosen saya di kawasan ini yaitu Omah Laweyan dan Batik Putera Laweyan.... sayangnya karena saya berkunjungnya sudah hampir maghrib dan perut sudah mulai keroncongan, jadi saya belum berkesempatan mendatangi kedua tempat itu.... next time semoga bisa keputar semuanya yaaa ^^v
Nah yang penasaran sama kawasan ini silahkan datang ke Kampoeng Batik Laweyan yang ada di sepanjang Jalan Sidoluhur, Solo ☺
Solo Heritage Escape: Museum Batik House of Danar Hadi
Holala...setelah sekian lama nggak produktif nge-blog karena ujian responsi dan sejenisnya... kali ini saya datang membawa cerita baru....
Kali ini saya ingin memuaskan hasrat keingintahuan tentang asal usul batik, yang sekarang kembali menghiasi jagat fashion, so here we go... Surakarta, alias Solo...
Nah berdasar rekomendasi dari seorang teman pecinta batik, tempat yang saya kunjungi pertama adalah Museum Batik House of Danar Hadi, yang terletak di Jalan Slamet Riyadi 261, Solo. Di sini kita akan disuguhkan pemandangan koleksi motif-motif batik kuno yang tidak akan kita temui lagi di pasaran.
Museum ini buka dari jam 9 pagi sampai 03.30 sore.... Dan untuk menikmati salah satu warisan budaya Indonesia ini, kita cukup membayar Rp 25000,00 tapi kalo pelajar/mahasiswa cukup merogoh kocek Rp 15000,00 saja (tentunya dengan menunjukkan student card yang masih berlaku).
Nah ini adalah ruang terdepan dari Museum Batik House of Danar Hadi, kesan mewah dan kekayaan tradisi yang tinggi sangat tergambar jelas di sini. Selama berkeliling kawasan ini, saya ditemani oleh seorang guide, namanya Mas Aryo, umurnya cuma beda 3 tahun dari saya, saya 23... mas nya 26... jadi lumayan seru buat ngobrol-ngobrol.
Dari sini petualangan pun dimulai, pertama kami masuk ke ruang pamer (showroom).... sayangnya selama di showroom pengunjung DILARANG foto-foto. Kata Mas Aryo, aturan itu dibuat untuk menjaga orisinalitas dari koleksi motif-motif batik kuno tersebut. Padahal di sini ada buanyaaaakkk banget koleksinya.... di antaranya ada Batik Belanda, Batik Djawa Hokokai, Batik Cina, Batik Indramayu, Batik Sembagi, Batik Nitik, Batik Jambi, Batik Madura, Batik Banyumas, Batik Cirebon, Batik Garut, Batik Petani, Batik Tuban, Batik Kraton Surakarta, Batik Kraton Yogyakarta, Batik Puro Pakualaman, Batik Puro Mangkunegaran, Batik Sudagaran Solo, dan Batik Sudagaran Jogja... selain itu ada juga koleksi batik kontemporer yang motifnya masih bisa kita temui sampai sekarang. Selama di showroom ini, Mas Aryo nggak cuma nunjukin kain-kainnya aja tapi juga bercerita kenapa motifnya gini kenapa motifnya gitu (magic ya.... mas nya bisa hapal detil asal usul semua motif) sayangnya karena nggak boleh foto-foto jadi agak susah ya saya jelasin motif-motifnya, intinya sih biasanya keseharian masyarakat di masa itu akan mempengaruhi motif batiknya, Batik Cina misalnya kan Chinese punya shio-shio jadi biasanya motifnya binatang-binatang kayak burung atau naga.... kalo Batik Kraton Solo cenderung lebih halus motifnya daripada Batik Kraton Jogja karena mencerminkan orang-orang Solo yang pembawaannya juga jauh lebih halus.
Menurut Mas Aryo semua koleksi motif batik di museum ini udah nggak ada lagi dimanapun, kecuali Batik Kontemporer yang sekarang memang sedang booming lagi. Tapi PT.Danar Hadi menerima pesanan dari para kolektor batik yang ingin memiliki replika dari kain batik kuno ini, harga satu replika dibandrol ratusan juta hingga milyaran rupiah, fantastis.... salah satu pemilik replika motif Batik Sudagaran adalah seorang pejabat Bank Indonesia.
Oya, selain ada koleksi kain batik, di museum ini juga dipamerkan alat-alat yang biasa dipergunakan untuk mBatik... seperti canting dan lilin batik, juga ada Flowchart of Traditional Process of Mbatik yang saya akui sangat-sangat rumit untuk dibayangkan, untungnya di paket kunjungan ini kita bisa melihat langsung proses membatik itu seperti apa.
Nah sebelum bisa melihat-lihat para ibu membatik, saya diajak berkunjung ke bangunan utama di lokasi ini.... namanya Ndalem Wuryaningratan... Dalam bahasa Jawa Ndalem itu berarti rumah, sedangkan Wuryaningrat adalah nama menantu Sultan Pakubuwono X yang pernah menghuni tempat ini, jadi kira-kira Ndalem Wuryaningratan itu artinya kediaman keluarga Wuryaningrat.
Ini adalah salah satu sudut terluar dari Ndalem Wuryaningratan, overall bangunan ini bergaya arsitektur Belanda bercampur ornamen-ornamen Jawa. Di sini pengunjung bebas untuk mengabadikan foto. Ruang pertama di dalam bangunan ini adalah Pendopo, semacam teras yang super luas gitu deh, selanjutnya ada ruang tamu yang super duper luas juga namanya Dalem Ageng
Nah ini dia si ruang tamu super lega yang disebut Dalem Ageng itu, bayangin para pelayan raja itu kalo mau menghadap harus jalan ndodhok (setengah jongkok) dari ujung ke ujung. Seperti kita lihat, di kiri dan kanan ruang ini ada semacam pintu. Nah kalau masuk lewat pintu itu kita bakal ketemu sama ruang santai yang disebut gandhok, gandhok ini menjadi akses utama dari Dalem Ageng menuju kedua kamar (senthong) yang ada di sisi kiri dan kanan.
Sejujurnya ruangan kamar (senthong) sangat menarik perhatian saya, karena nuansa kamar yang putih dan temaram, furniture nya ada yang terbuat dari marmer putih keabuan, serta ukuran tempat tidur model belanda yang cukup besar lengkap dengan tirai atau kelambu nya. Namun sayang, saya tidak cukup nyali bahkan untuk mengambil foto ruangannya saja. Ketika saya masuk ke Ndalem Wuryaningratan ini, semua lampu di ruangan dalam kondisi mati, dan baru dinyalakan ketika ada pengunjung masuk... sepertinya kalau malam hari pun hanya lampu di pendopo dan Dalem Ageng saja yang dinyalakan. Wajar saja bila aura yang saya rasakan selama di dalam senthong cukup kuat dan berbeda. Mas Aryo bilang, sebelum dibeli oleh PT.Danar Hadi sekitar tahun 2000-an rumah besar milik menantu sultan ini memang sudah tidak berpenghuni dan sempat tidak terurus. Dan disini saya ditantang oleh Mas Aryo, "Mbak, kalau panjenengan mau menginap di sini, semalam saja tidur di kamar ini, saya kasih uang deh." Di Ndalem Wuryaningratan ini juga ada ruang makan yang sangat megah, masih lengkap dengan perkakas jamuan makannya.....
Meninggalkan Ndalem Wuryaningratan lengkap dengan kemegahan dan kekuatan auranya, sekarang kita berlanjut ke ruang workshop. Ya, di sini kita bisa melihat proses membatik dari tahap ke tahap, hanya saja hawanya agak sedikit sumuk (gerah) karena kan proses membatik itu memang banyak membutuhkan pembakaran, panas-panas gitu.
Ada 9 tahapan dalam proses membatik tradisional.... setelah dipola, kain akan dicuci kemudian dilumuri semacam starch / kanji yang fungsinya membuat kain menjadi kaku, proses ini disebut NGANJI. Setelah itu untuk menghaluskan, permukaan kain akan dipukul-pukul menggunakan palu (NGEMPLONG). Kemudian masuk ke tahap waxing (pelumuran lilin), untuk tahap awal ada dua proses per-waxing-an yang pertama NGLOWONG, yaitu menutup bagian kain yang akan diwarna coklat, dan NEMBOK, yaitu menutup bagian kain yang akan diwarnai selain coklat. Nah kalau pernah dengar istilah batik canting dan batik cap, dari sinilah asalnya. NGLOWONG dan NEMBOK bisa dikerjakan menggunakan canting (proses pengerjaan lebih lama, karena bagian yang ditutup lumayan kecil dan sempit, biasanya detail motifnya lebih rumit) atau untuk permukaan yang lebih luas / motif yang tidak terlalu detail biasanya menggunakan alat semacam setrikaan arang yang panas gitu untuk melumurkan lilinnya, jadi kayak orang ngecap gitu deh (saya sempat mencoba teknik cap, tidak terlalu rumit tapi alat yang mirip setrikaan itu lumayan berat dan panas). Setelah di-cover lilin, kain akan dicelupkan ke dalam larutan pewarna non-coklat (kebetulan kain yang saya amati ini akan diwarnai biru dan coklat), proses ini disebut MEDEL. Selesai di MEDEL, lapisan lilin NGLOWONG tadi akan dibersihkan dengan cara dikerok sedikit-sedikit menggunakan batang logam, maka dari itu prosesnya dinamakan NGEROK. Habis ini, kain akan dicelupkan ke pewarna coklat, tapi sebelumnya bagian kain yang akan tetap diwarnai biru akan di-waxing lagi, disebutnya MBIRONI, baru deh kalin dicelup ke pewarna coklat ( NYOGA). Tahap akhirnya, kain tinggal direbus di dalam air mendidih untuk menghilangkan seluruh lapisan lilinnya, bagian ini dinamakan NGLOROD.
Pekerja batik di sini mayoritas ibu-ibu, bahkan ada juga yang usianya sudah uzur tapi jago ngegambar motif batik...amazing....
Nah jadi teman-teman semua tau dong kenapa kita harus dan wajib melestarikan batik, karena batik bukan hanya selembar kain, tapi memiliki filosofi yang berbeda-beda di setiap motifnya, plus teknik pembuatannya yang super duper rumit, menggambarkan kerja keras yang luar biasa untuk menghasilkan suatu masterpiece yang sangat indah. Itu juga alasannya saya lebih suka koleksi batik lawasan daripada batik kontemporer, karena motifnya itu udah susah dicari plus kalau batik kontemporer biasanya proses pengerjaannya sudah lebih modern.
Di bagian akhir dari jalan-jalan seharian di Museum Batik House of Danar Hadi ini pengunjung ditawarkan wisata belanja produk-produk karya PT.Danar Hadi. Meskipun Butik Batik Danar Hadi sudah ada di kota-kota lain, di antaranya Bandung dan Jogja, namun dari pengamatan saya koleksi yang dijual di sini jauh berbeda dan harganya pun lumayan... lumayan tinggi maksudnya....
Well, itulah akhir kunjungan saya di Museum Batik, eits, tapi saya masih punya cerita tentang tempat-tempat lain di Solo, tunggu update-an selanjutnya yaaaa.... ^^v
Kali ini saya ingin memuaskan hasrat keingintahuan tentang asal usul batik, yang sekarang kembali menghiasi jagat fashion, so here we go... Surakarta, alias Solo...
Nah berdasar rekomendasi dari seorang teman pecinta batik, tempat yang saya kunjungi pertama adalah Museum Batik House of Danar Hadi, yang terletak di Jalan Slamet Riyadi 261, Solo. Di sini kita akan disuguhkan pemandangan koleksi motif-motif batik kuno yang tidak akan kita temui lagi di pasaran.
Museum ini buka dari jam 9 pagi sampai 03.30 sore.... Dan untuk menikmati salah satu warisan budaya Indonesia ini, kita cukup membayar Rp 25000,00 tapi kalo pelajar/mahasiswa cukup merogoh kocek Rp 15000,00 saja (tentunya dengan menunjukkan student card yang masih berlaku).
Nah ini adalah ruang terdepan dari Museum Batik House of Danar Hadi, kesan mewah dan kekayaan tradisi yang tinggi sangat tergambar jelas di sini. Selama berkeliling kawasan ini, saya ditemani oleh seorang guide, namanya Mas Aryo, umurnya cuma beda 3 tahun dari saya, saya 23... mas nya 26... jadi lumayan seru buat ngobrol-ngobrol.
Dari sini petualangan pun dimulai, pertama kami masuk ke ruang pamer (showroom).... sayangnya selama di showroom pengunjung DILARANG foto-foto. Kata Mas Aryo, aturan itu dibuat untuk menjaga orisinalitas dari koleksi motif-motif batik kuno tersebut. Padahal di sini ada buanyaaaakkk banget koleksinya.... di antaranya ada Batik Belanda, Batik Djawa Hokokai, Batik Cina, Batik Indramayu, Batik Sembagi, Batik Nitik, Batik Jambi, Batik Madura, Batik Banyumas, Batik Cirebon, Batik Garut, Batik Petani, Batik Tuban, Batik Kraton Surakarta, Batik Kraton Yogyakarta, Batik Puro Pakualaman, Batik Puro Mangkunegaran, Batik Sudagaran Solo, dan Batik Sudagaran Jogja... selain itu ada juga koleksi batik kontemporer yang motifnya masih bisa kita temui sampai sekarang. Selama di showroom ini, Mas Aryo nggak cuma nunjukin kain-kainnya aja tapi juga bercerita kenapa motifnya gini kenapa motifnya gitu (magic ya.... mas nya bisa hapal detil asal usul semua motif) sayangnya karena nggak boleh foto-foto jadi agak susah ya saya jelasin motif-motifnya, intinya sih biasanya keseharian masyarakat di masa itu akan mempengaruhi motif batiknya, Batik Cina misalnya kan Chinese punya shio-shio jadi biasanya motifnya binatang-binatang kayak burung atau naga.... kalo Batik Kraton Solo cenderung lebih halus motifnya daripada Batik Kraton Jogja karena mencerminkan orang-orang Solo yang pembawaannya juga jauh lebih halus.
Menurut Mas Aryo semua koleksi motif batik di museum ini udah nggak ada lagi dimanapun, kecuali Batik Kontemporer yang sekarang memang sedang booming lagi. Tapi PT.Danar Hadi menerima pesanan dari para kolektor batik yang ingin memiliki replika dari kain batik kuno ini, harga satu replika dibandrol ratusan juta hingga milyaran rupiah, fantastis.... salah satu pemilik replika motif Batik Sudagaran adalah seorang pejabat Bank Indonesia.
Oya, selain ada koleksi kain batik, di museum ini juga dipamerkan alat-alat yang biasa dipergunakan untuk mBatik... seperti canting dan lilin batik, juga ada Flowchart of Traditional Process of Mbatik yang saya akui sangat-sangat rumit untuk dibayangkan, untungnya di paket kunjungan ini kita bisa melihat langsung proses membatik itu seperti apa.
Nah sebelum bisa melihat-lihat para ibu membatik, saya diajak berkunjung ke bangunan utama di lokasi ini.... namanya Ndalem Wuryaningratan... Dalam bahasa Jawa Ndalem itu berarti rumah, sedangkan Wuryaningrat adalah nama menantu Sultan Pakubuwono X yang pernah menghuni tempat ini, jadi kira-kira Ndalem Wuryaningratan itu artinya kediaman keluarga Wuryaningrat.
Ini adalah salah satu sudut terluar dari Ndalem Wuryaningratan, overall bangunan ini bergaya arsitektur Belanda bercampur ornamen-ornamen Jawa. Di sini pengunjung bebas untuk mengabadikan foto. Ruang pertama di dalam bangunan ini adalah Pendopo, semacam teras yang super luas gitu deh, selanjutnya ada ruang tamu yang super duper luas juga namanya Dalem Ageng
Nah ini dia si ruang tamu super lega yang disebut Dalem Ageng itu, bayangin para pelayan raja itu kalo mau menghadap harus jalan ndodhok (setengah jongkok) dari ujung ke ujung. Seperti kita lihat, di kiri dan kanan ruang ini ada semacam pintu. Nah kalau masuk lewat pintu itu kita bakal ketemu sama ruang santai yang disebut gandhok, gandhok ini menjadi akses utama dari Dalem Ageng menuju kedua kamar (senthong) yang ada di sisi kiri dan kanan.
Sejujurnya ruangan kamar (senthong) sangat menarik perhatian saya, karena nuansa kamar yang putih dan temaram, furniture nya ada yang terbuat dari marmer putih keabuan, serta ukuran tempat tidur model belanda yang cukup besar lengkap dengan tirai atau kelambu nya. Namun sayang, saya tidak cukup nyali bahkan untuk mengambil foto ruangannya saja. Ketika saya masuk ke Ndalem Wuryaningratan ini, semua lampu di ruangan dalam kondisi mati, dan baru dinyalakan ketika ada pengunjung masuk... sepertinya kalau malam hari pun hanya lampu di pendopo dan Dalem Ageng saja yang dinyalakan. Wajar saja bila aura yang saya rasakan selama di dalam senthong cukup kuat dan berbeda. Mas Aryo bilang, sebelum dibeli oleh PT.Danar Hadi sekitar tahun 2000-an rumah besar milik menantu sultan ini memang sudah tidak berpenghuni dan sempat tidak terurus. Dan disini saya ditantang oleh Mas Aryo, "Mbak, kalau panjenengan mau menginap di sini, semalam saja tidur di kamar ini, saya kasih uang deh." Di Ndalem Wuryaningratan ini juga ada ruang makan yang sangat megah, masih lengkap dengan perkakas jamuan makannya.....
Meninggalkan Ndalem Wuryaningratan lengkap dengan kemegahan dan kekuatan auranya, sekarang kita berlanjut ke ruang workshop. Ya, di sini kita bisa melihat proses membatik dari tahap ke tahap, hanya saja hawanya agak sedikit sumuk (gerah) karena kan proses membatik itu memang banyak membutuhkan pembakaran, panas-panas gitu.
Ada 9 tahapan dalam proses membatik tradisional.... setelah dipola, kain akan dicuci kemudian dilumuri semacam starch / kanji yang fungsinya membuat kain menjadi kaku, proses ini disebut NGANJI. Setelah itu untuk menghaluskan, permukaan kain akan dipukul-pukul menggunakan palu (NGEMPLONG). Kemudian masuk ke tahap waxing (pelumuran lilin), untuk tahap awal ada dua proses per-waxing-an yang pertama NGLOWONG, yaitu menutup bagian kain yang akan diwarna coklat, dan NEMBOK, yaitu menutup bagian kain yang akan diwarnai selain coklat. Nah kalau pernah dengar istilah batik canting dan batik cap, dari sinilah asalnya. NGLOWONG dan NEMBOK bisa dikerjakan menggunakan canting (proses pengerjaan lebih lama, karena bagian yang ditutup lumayan kecil dan sempit, biasanya detail motifnya lebih rumit) atau untuk permukaan yang lebih luas / motif yang tidak terlalu detail biasanya menggunakan alat semacam setrikaan arang yang panas gitu untuk melumurkan lilinnya, jadi kayak orang ngecap gitu deh (saya sempat mencoba teknik cap, tidak terlalu rumit tapi alat yang mirip setrikaan itu lumayan berat dan panas). Setelah di-cover lilin, kain akan dicelupkan ke dalam larutan pewarna non-coklat (kebetulan kain yang saya amati ini akan diwarnai biru dan coklat), proses ini disebut MEDEL. Selesai di MEDEL, lapisan lilin NGLOWONG tadi akan dibersihkan dengan cara dikerok sedikit-sedikit menggunakan batang logam, maka dari itu prosesnya dinamakan NGEROK. Habis ini, kain akan dicelupkan ke pewarna coklat, tapi sebelumnya bagian kain yang akan tetap diwarnai biru akan di-waxing lagi, disebutnya MBIRONI, baru deh kalin dicelup ke pewarna coklat ( NYOGA). Tahap akhirnya, kain tinggal direbus di dalam air mendidih untuk menghilangkan seluruh lapisan lilinnya, bagian ini dinamakan NGLOROD.
Pekerja batik di sini mayoritas ibu-ibu, bahkan ada juga yang usianya sudah uzur tapi jago ngegambar motif batik...amazing....
Nah jadi teman-teman semua tau dong kenapa kita harus dan wajib melestarikan batik, karena batik bukan hanya selembar kain, tapi memiliki filosofi yang berbeda-beda di setiap motifnya, plus teknik pembuatannya yang super duper rumit, menggambarkan kerja keras yang luar biasa untuk menghasilkan suatu masterpiece yang sangat indah. Itu juga alasannya saya lebih suka koleksi batik lawasan daripada batik kontemporer, karena motifnya itu udah susah dicari plus kalau batik kontemporer biasanya proses pengerjaannya sudah lebih modern.
Di bagian akhir dari jalan-jalan seharian di Museum Batik House of Danar Hadi ini pengunjung ditawarkan wisata belanja produk-produk karya PT.Danar Hadi. Meskipun Butik Batik Danar Hadi sudah ada di kota-kota lain, di antaranya Bandung dan Jogja, namun dari pengamatan saya koleksi yang dijual di sini jauh berbeda dan harganya pun lumayan... lumayan tinggi maksudnya....
Well, itulah akhir kunjungan saya di Museum Batik, eits, tapi saya masih punya cerita tentang tempat-tempat lain di Solo, tunggu update-an selanjutnya yaaaa.... ^^v
Jumat, 18 Januari 2013
Selasa, 15 Januari 2013
Waiting for My Gula Pasir
"Gula jawa ternyata sudah berubah menjadi gula pasir" .... pastinya kita tak asing lagi dengan kalimat itu. Ya, kalimat singkat yang diucapkan oleh B. J. Habibie kepada almarhumah istrinya ,Ibu Ainun, berhasil diperankan secara apik oleh Reza Rahardian dan Bunga Citra Lestari.
Habibie & Ainun is a must watch for all Indonesians!!! I agree with that statement. Animo masyarakat yang sangat tinggi terhadap kisah romansa salah satu mantan orang nomor satu di Indonesia itu, terlihat jelas ketika aku harus menanti antrian panjang di salah satu ticket counter Blitzmegaplex PVJ. Dan saat malam harinya pintu teater dibuka, aku melihat beragam orang berbondong-bondong. Banyak pasangan-pasangan muda, namun ada juga satu keluarga komplit (opa, oma, suami, istri, bahkan anaknya yang masih kecil pun turut dibawa serta).
Malam itu, aku datang bersama papa dan mama... well, pasti banyak yang terheran-heran umur hampir 23 tahun kok ke bioskop sama ortu, nggak sama pacar atau minimal teman. Yup, khusus untuk film yang satu ini, dari jauh-jauh hari mama sudah request agar aku jangan nonton dulu, "temenin mama sama papa nonton," begitu kata beliau. Alasannya simple, karena mama ingin papa semakin romantis setelah nonton film itu, dan supaya aku menjadikan Pak Habibie sebagai role model dalam memilih pacar. Nampaknya tak hanya mama yang punya alasan seperti itu, mayoritas penonton pun memiliki alasan serupa, terutama para wanita. Meskipun ada sih penonton pria yang murni ingin nonton dari keinginan sendiri, tapi banyak juga yang "digeret-geret" sama si cewek gara-gara si cewek ingin sang pacar mencontoh Pak Habibie.
Tapiiiiii..... seperti biasa, otakku sering berpikir sesuatu yang liar, anti mainstream kata orang. Tersirat di benakku, andai banyak wanita yang ingin pasangannya memperlakukan mereka semanis cerita Habibie & Ainun, lantas adakah satu di antara mereka yang ingin menjadi seperti Ainun????
Teringat celetukan seorang teman: Good boy just for good girl, and bad boy just for bad girl...hmm, jangan salah kaprah ya, pengertiannya bila menginginkan pasangan yang terbaik, maka kita pun harus berusaha menjadi pribadi yang baik. Malu nggak sih kalau secara nggak sadar kita "menuntut" pasangan untuk selalu menjadi yang terbaik di mata kita tanpa memberi timbal balik yang setimpal dengan menjadi yang terbaik di matanya.....
Maka jadilah tebu yang berkualitas bila ingin menjadi gula pasir di hati pasangan kita masing-masing °\(ˆ▽ˆ)/°\(^▿^)/°
Senin, 14 Januari 2013
The Sweetest Escape Il Gelato Perfetto
Italy's coffee brewing style.... agaklah sulit untuk mencari tempat semacam itu di kota pelajar ini sejak pertama kali aku menjejakkan kaki di tahun 2007, di kala ruang publik yang cozy menjadi kebutuhan bagi setiap orang. Sampai akhirnya di tahun 2010 aku harus "blusukan" dalam istilah Jawa, mencari tempat yang sekiranya cocok bagi dua orang sahabatku yang sedang ingin PDKT...
Pandanganku tertuju pada sebuah tempat hangout bergaya classic european cafe, dengan nama yang cukup unik Artemy Italian Gelato... saat itu juga aku merasakan senyawa positif yang dimiliki tempat itu. Malam itu juga aku dan kedua sahabatku memutuskan untuk mencobanya, ternyata langsung klop banget... tempatnya cozy, romantis, bahkan ada juga yang mengatakan nuansanya unyu-unyu.
Rasanya tidak akan bosan, andaikan setiap hari kita berada di sana, karena setiap harinya kita akan disuguhi varian rasa yang berbeda, ya seperti hidup ini tidak pernah monoton.
Apa nggak takut gemuk Del? Well, I don't think so ya kecuali kalau mengkonsumsinya segalon per hari, karena di Gelato terbuat dari low fat milk dan non-creamy milk, ada juga varian Low Calorie Gelato, dan buat yang sangat takut akan gemuk maka Sorbet akan menjadi pilihan tepat karena totally 0 fat. Varian rasanya sangat beragam mulai dari buah-buahan seperti Mango, Black Currant, Blueberry, bagi yang tidak suka buah-buahan ada varian rasa Oreo, Ferrero Roche, Rum Raisin, Cotton Candy, Green Tea, dan masih banyak lagi. Plus bisa juga ditambah topping sesuai selera, seperti wafer, sprinkles, egg rolls, cha cha dan disuguhkan dengan cone atau gelas. Personally, aku selalu memilih campuran Blueberry ~ Cotton Candy ... tentunya dengan suatu filosofi tersendiri.
Dari segi harga dijamin aman di kantong, cukup Rp. 10000,00 per scoop atau Rp 17500,00 per 2 scoop
Nah bagi yang suka dengan interior design bergaya modern minimalis bisa kunjungi Artemy di Jl.Perwakilan No.5 Yogyakarta atau bagi yang lebih menyukai european style bisa mengunjungi Artemy yang ada di Jl. Kranggan No.58 Yogyakarta
Langganan:
Postingan (Atom)






