Kamis, 31 Januari 2013

Solo Heritage Escape: Museum Batik House of Danar Hadi

Diposting oleh adellia dian di 07.51
Holala...setelah sekian lama nggak produktif nge-blog karena ujian responsi dan sejenisnya... kali ini saya datang membawa cerita baru....
Kali ini saya ingin memuaskan hasrat keingintahuan tentang asal usul batik, yang sekarang kembali menghiasi jagat fashion, so here we go... Surakarta, alias Solo...
Nah berdasar rekomendasi dari seorang teman pecinta batik, tempat yang saya kunjungi pertama adalah Museum Batik House of Danar Hadi, yang terletak di Jalan Slamet Riyadi 261, Solo. Di sini kita akan disuguhkan pemandangan koleksi motif-motif batik kuno yang tidak akan kita temui lagi di pasaran.
Museum ini buka dari jam 9 pagi sampai 03.30 sore.... Dan untuk menikmati salah satu warisan budaya Indonesia ini, kita cukup membayar Rp 25000,00 tapi kalo pelajar/mahasiswa cukup merogoh kocek Rp 15000,00 saja (tentunya dengan menunjukkan student card yang masih berlaku).


Nah ini adalah ruang terdepan dari Museum Batik House of Danar Hadi, kesan mewah dan kekayaan tradisi yang tinggi sangat tergambar jelas di sini. Selama berkeliling kawasan ini, saya ditemani oleh seorang guide, namanya Mas Aryo, umurnya cuma beda 3 tahun dari saya, saya 23... mas nya 26... jadi lumayan seru buat ngobrol-ngobrol.
Dari sini petualangan pun dimulai, pertama kami masuk ke ruang pamer (showroom).... sayangnya selama di showroom pengunjung DILARANG foto-foto. Kata Mas Aryo, aturan itu dibuat untuk menjaga orisinalitas dari koleksi motif-motif batik kuno tersebut. Padahal di sini ada buanyaaaakkk banget koleksinya.... di antaranya ada Batik Belanda, Batik Djawa Hokokai, Batik Cina, Batik Indramayu, Batik Sembagi, Batik Nitik, Batik Jambi, Batik Madura, Batik Banyumas, Batik Cirebon, Batik Garut, Batik Petani, Batik Tuban, Batik Kraton Surakarta, Batik Kraton Yogyakarta, Batik Puro Pakualaman, Batik Puro Mangkunegaran, Batik Sudagaran Solo, dan Batik Sudagaran Jogja... selain itu ada juga koleksi batik kontemporer yang motifnya masih bisa kita temui sampai sekarang. Selama di showroom ini, Mas Aryo nggak cuma nunjukin kain-kainnya aja tapi juga bercerita kenapa motifnya gini kenapa motifnya gitu (magic ya.... mas nya bisa hapal detil asal usul semua motif) sayangnya karena nggak boleh foto-foto jadi agak susah ya saya jelasin motif-motifnya, intinya sih biasanya keseharian masyarakat di masa itu akan mempengaruhi motif batiknya, Batik Cina misalnya kan Chinese punya shio-shio jadi biasanya motifnya binatang-binatang kayak burung atau naga.... kalo Batik Kraton Solo cenderung lebih halus motifnya daripada Batik Kraton Jogja karena mencerminkan orang-orang Solo yang pembawaannya juga jauh lebih halus.
Menurut Mas Aryo semua koleksi motif batik di museum ini udah nggak ada lagi dimanapun, kecuali Batik Kontemporer yang sekarang memang sedang booming lagi. Tapi PT.Danar Hadi menerima pesanan dari para kolektor batik yang ingin memiliki replika dari kain batik kuno ini, harga satu replika dibandrol ratusan juta hingga milyaran rupiah, fantastis.... salah satu pemilik replika motif Batik Sudagaran adalah seorang pejabat Bank Indonesia.
Oya, selain ada koleksi kain batik, di museum ini juga dipamerkan alat-alat yang biasa dipergunakan untuk mBatik... seperti canting dan lilin batik, juga ada Flowchart of Traditional Process of Mbatik yang saya akui sangat-sangat rumit untuk dibayangkan, untungnya di paket kunjungan ini kita bisa melihat langsung proses membatik itu seperti apa.
Nah sebelum bisa melihat-lihat para ibu membatik, saya diajak berkunjung ke bangunan utama di lokasi ini.... namanya Ndalem Wuryaningratan... Dalam bahasa Jawa Ndalem itu berarti rumah, sedangkan Wuryaningrat adalah nama menantu Sultan Pakubuwono X yang pernah menghuni tempat ini, jadi kira-kira Ndalem Wuryaningratan itu artinya kediaman keluarga Wuryaningrat.


Ini adalah salah satu sudut terluar dari Ndalem Wuryaningratan, overall bangunan ini bergaya arsitektur Belanda bercampur ornamen-ornamen Jawa. Di sini pengunjung bebas untuk mengabadikan foto. Ruang pertama di dalam bangunan ini adalah Pendopo, semacam teras yang super luas gitu deh, selanjutnya ada ruang tamu yang super duper luas juga namanya Dalem Ageng


Nah ini dia si ruang tamu super lega yang disebut Dalem Ageng itu, bayangin para pelayan raja itu kalo mau menghadap harus jalan ndodhok (setengah jongkok) dari ujung ke ujung. Seperti kita lihat, di kiri dan kanan ruang ini ada semacam pintu. Nah kalau masuk lewat pintu itu kita bakal ketemu sama ruang santai yang disebut gandhok, gandhok ini menjadi akses utama dari Dalem Ageng menuju kedua kamar (senthong) yang ada di sisi kiri dan kanan. 
Sejujurnya ruangan kamar (senthong) sangat menarik perhatian saya, karena nuansa kamar yang putih dan temaram, furniture nya ada yang terbuat dari marmer putih keabuan, serta ukuran tempat tidur model belanda yang cukup besar lengkap dengan tirai atau kelambu nya. Namun sayang, saya tidak cukup nyali bahkan untuk mengambil foto ruangannya saja. Ketika saya masuk ke Ndalem Wuryaningratan ini, semua lampu di ruangan dalam kondisi mati, dan baru dinyalakan ketika ada pengunjung masuk... sepertinya kalau malam hari pun hanya lampu di pendopo dan Dalem Ageng saja yang dinyalakan. Wajar saja bila aura yang saya rasakan selama di dalam senthong cukup kuat dan berbeda. Mas Aryo bilang, sebelum dibeli oleh PT.Danar Hadi sekitar tahun 2000-an rumah besar milik menantu sultan ini memang sudah tidak berpenghuni dan sempat tidak terurus. Dan disini saya ditantang oleh Mas Aryo, "Mbak, kalau panjenengan mau menginap di sini, semalam saja tidur di kamar ini, saya kasih uang deh." Di Ndalem Wuryaningratan ini juga ada ruang makan yang sangat megah, masih lengkap dengan perkakas jamuan makannya.....
Meninggalkan Ndalem Wuryaningratan lengkap dengan kemegahan dan kekuatan auranya, sekarang kita berlanjut ke ruang workshop. Ya, di sini kita bisa melihat proses membatik dari tahap ke tahap, hanya saja hawanya agak sedikit sumuk (gerah) karena kan proses membatik itu memang banyak membutuhkan pembakaran, panas-panas gitu.


Ada 9 tahapan dalam proses membatik tradisional.... setelah dipola, kain akan dicuci kemudian dilumuri semacam starch / kanji yang fungsinya membuat kain menjadi kaku, proses ini disebut NGANJI. Setelah itu untuk menghaluskan, permukaan kain akan dipukul-pukul menggunakan palu (NGEMPLONG). Kemudian masuk ke tahap waxing (pelumuran lilin), untuk tahap awal ada dua proses per-waxing-an yang pertama NGLOWONG, yaitu menutup bagian kain yang akan diwarna coklat, dan NEMBOK, yaitu menutup bagian kain yang akan diwarnai selain coklat. Nah kalau pernah dengar istilah batik canting dan batik cap, dari sinilah asalnya. NGLOWONG dan NEMBOK bisa dikerjakan menggunakan canting (proses pengerjaan lebih lama, karena bagian yang ditutup lumayan kecil dan sempit, biasanya detail motifnya lebih rumit) atau untuk permukaan yang lebih luas / motif yang tidak terlalu detail biasanya menggunakan alat semacam setrikaan arang yang panas gitu untuk melumurkan lilinnya, jadi kayak orang ngecap gitu deh (saya sempat mencoba teknik cap, tidak terlalu rumit tapi alat yang mirip setrikaan itu lumayan berat dan panas). Setelah di-cover lilin, kain akan dicelupkan ke dalam larutan pewarna non-coklat (kebetulan kain yang saya amati ini akan diwarnai biru dan coklat), proses ini disebut MEDEL. Selesai di MEDEL, lapisan lilin NGLOWONG tadi akan dibersihkan dengan cara dikerok sedikit-sedikit menggunakan batang logam, maka dari itu prosesnya dinamakan NGEROK. Habis ini, kain akan dicelupkan ke pewarna coklat, tapi sebelumnya bagian kain yang akan tetap diwarnai biru akan di-waxing lagi, disebutnya MBIRONI, baru deh kalin dicelup ke pewarna coklat ( NYOGA). Tahap akhirnya, kain tinggal direbus di dalam air mendidih untuk menghilangkan seluruh lapisan lilinnya, bagian ini dinamakan NGLOROD.
Pekerja batik di sini mayoritas ibu-ibu, bahkan ada juga yang usianya sudah uzur tapi jago ngegambar motif batik...amazing....
Nah jadi teman-teman semua tau dong kenapa kita harus dan wajib melestarikan batik, karena batik bukan hanya selembar kain, tapi memiliki filosofi yang berbeda-beda di setiap motifnya, plus teknik pembuatannya yang super duper rumit, menggambarkan kerja keras yang luar biasa untuk menghasilkan suatu masterpiece yang sangat indah. Itu juga alasannya saya lebih suka koleksi batik lawasan daripada batik kontemporer, karena motifnya itu udah susah dicari plus kalau batik kontemporer biasanya proses pengerjaannya sudah lebih modern.
Di bagian akhir dari jalan-jalan seharian di Museum Batik House of Danar Hadi ini pengunjung ditawarkan wisata belanja produk-produk karya PT.Danar Hadi. Meskipun Butik Batik Danar Hadi sudah ada di kota-kota lain, di antaranya Bandung dan Jogja, namun dari pengamatan saya koleksi yang dijual di sini jauh berbeda dan harganya pun lumayan... lumayan tinggi maksudnya....
Well, itulah akhir kunjungan saya di Museum Batik, eits, tapi saya masih punya cerita tentang tempat-tempat lain di Solo, tunggu update-an selanjutnya yaaaa.... ^^v

3 komentar:

Unknown on 1 Februari 2013 pukul 02.07 mengatakan...

itu tempatnya yg dmana ya min??bukan yg deket matahari kan ya??alamat lengkapnya dong..
makasihh

adellia dian on 1 Februari 2013 pukul 22.36 mengatakan...

Halo mbak Feti, trims udah baca blog saya... (panggil Adel aja mbak, ini blog pribadi kok) ^^v alamatnya di Jalan Slamet Riyadi No. 261 buka dari jam 09.00 - 15.30, menurut guide yang menemani saya setiap tanggal 1 Januari mereka tutup :) ... Selamat berpetualang

Unknown on 30 Juli 2018 pukul 17.16 mengatakan...

Proud of pelestarian karya leluhur, art n deep karya hati yg berbicara, semoga generasi meneruskan

Posting Komentar

 

Life is a mixture between blueberry & cotton candy Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos