Sabtu, 25 Mei 2013

Seribu Cahaya Harapan Pupus di Puncak Perayaan Waisak 2013

Diposting oleh adellia dian di 17.48 0 komentar
Puncak perayaan waisak di Borobudur...
suatu prosesi yang sangat menyedot perhatian seluruh umat, tidak hanya umat Buddha tapi semua orang dari berbagai kalangan termasuk wisatawan asing.
Tahun ini sudah kedua kalinya saya mengikuti prosesi sakral ini. Tahun sebelumnya saya menghadiri prosesi ini bersama seorang teman. Dan mengingat betapa sakral & mengesankannya perayaan Waisak & festival lampion saat itu, tahun ini saya pun mengajak keluarga untuk ikut serta.
Hujan yang sudah mengguyur sejak sore tiba-tiba surut jelang detik-detik perayaan, hal itu sama persis seperti tahun sebelumnya, menurut kepercayaan jelang prosesi para Bhante dan Biksu akan mendoakan agar Sang Buddha Gauthama menahan hujan atau menggesernya ke kawasan lain agar tidak mengganggu jalannya acara.
Setiba di sana, keadaan justru jauh lebih kacau dibanding tahun sebelumnya. Pejabat negara (Menteri Keagamaan) dan pejabat daerah (Gubernur Provinsi Jawa Tengah) sebagai tamu VVIP yang di tahun sebelumnya datang tepat waktu bahkan sebelum gerbang masuk dibuka, tahun ini terlambat sekitar lebih dari 30 menit. Hal itu membuat proses pengamanan diperketat, pengunjung harus melewati 2 lapis pemeriksaan metal detector. Sayangnya panitia dan aparat tidak memperhitungkan jumlah pengunjung yang hadir sehingga memakan waktu amat sangat lama tersendat di kedua lapis penjagaan itu.
Keadaan yang sangat chaos ini juga membuat panitia kewalahan, barisan terdepan tempat saya tahun lalu juga duduk sudah terjejal sehingga banyak orang hanya mendapat tempat di bagian belakang.
Bagi saya, perayaan Waisak tahun ini sangat berkurang tingkat kesakralannya, sebab pengunjung yang tidak mendapat tempat di depan (mungkin mereka lupa bahwa bagaimanapun ini adalah prosesi keagamaan) ribut sepanjang acara, entah ribut dengan panitia atau dengan orang di depannya yang menghalangi pandangan.
Tak lama setelah rombongan menteri datang (yang disambut dengan cemoohan dan teriakan "HUUUUUU" terutama dari barisan belakang) hujan deras kembali mengguyur. Hujan bagi umat Buddha adalah berkah, namun tahun ini percaya atau tidak seorang ibu yang kebetulan adalah umat Buddha yang kebetulan duduk di samping saya berkata "sepertinya ini tanda-tanda alam Sang Buddha tidak merestui prosesi ini, karena kesakralan berkurang, umat banyak terhalang di depan hanya karena 2 pejabat yang terlambat datang padahal Buddha tidak mengenal adanya kasta, Bapak Gubernur yang seharusnya memberikan sambutan justru memanfaatkan untuk membicarakan kampanye di atas altar /panggung
utama dan semua itu membuat secara tidak langsung orang terpancing emosinya sehingga tidak menciptakan kedamaian di bumi"
Hujan mengguyur sampai akhir acara sehingga 1000 lampion yang merupakan perlambang pengharapan hidup dan doa yang kita panjatkan pun batal mengudara....
Selain itu saya melihat banyak turis asing yang meninggalkan lokasi sebelum acara selesai, padahal tahun sebelumnya merekalah yang paling antusias dengan prosesi dan bahkan mereka ikut dalam prosesi Pradhaksina (jalan mengelilingi pelataran candi sebanyak 3 kali sambil membawa lilin dan berdoa).
Semoga hal ini bisa menjadi pembelajaran dan perbaikan bagi panitia untuk pelaksanaan Perayaan Waisak di tahun-tahun berikutnya agar tidal menimbulkan kekecewaan bagi orang-orang yang sudah beberapa kali datang kesana dan tidak menimbulkan kesan buruk dan trauma bagi mereka yang baru pertama kalinya mencoba datang.
Mengutip pernyataan salah seorang turis asing yg saya temui malam itu "Rain, people, mud, traffic, darkness, boredom, chaos, this is the worst Vaisak Festival I've ever seen. Never going to return again" meskipun di antara mereka masih ada yang berminat tetap datang kembali tahun depan untuk menyaksikan pelepasan lampion...seribu cahaya pengharapan umat manusia di muka bumi.

Selasa, 16 April 2013

Menjadi Apa Pun Diri mu...

Diposting oleh adellia dian di 05.05 0 komentar


             Karang akan hadapi hujan, terik sinar mentari, badai, juga gelombang. Elang akan menembus lapis langit, mengangkasa jauh, melayang tinggi dan tak pernah lelah untuk terus mengembara dengan bentangan sayapnya. Paus akan menggetarkan samudera hanya dengan sedikit gerakan. Pohon akan hadapi petir, deras hujan, silau matahari, namun selalu berusaha menaungi. Melati ikhlas ‘tuk selalu menerima keadaannya, meski tak terhitung pula bunga-bunga lain dengan segala kecantikannya. Kupu-kupu berusaha bertahan, meski saat-saat diam adalah kejenuhan. Mutiara tak memudar kelam, meski pekat lingkungan mengepungnya di kiri-kanan, depan dan belakang.
              Tapi Elang menjadi tangguh, tak hiraukan lelah tatkala terbang melintasi bermilyar kilo bentang cakrawala. Karang menjadi kokoh dengan segala ujian. Paus menjadi kuat dengan besar tubuhnya dalam luas samudera. Pohon tetap menjadi naungan meski ia hadapi beribu gangguan. Melati menjadi bijak dengan dada yang lapang, dan justru terlihat indah dengan segala kesederhanaan. Mutiara tetap bersinar dimanapun ia terletak, dimanapun ia berada. Kupu-kupu hadapi cerah dunia meskipun lalui perjuangan panjang dalam kesendirian.
          Menjadi apapun dirimu…, bersyukurlah selalu. Sebab kau yang paling tahu siapa dirimu. Sebab kau yakini kekuatanmu. Sebab kau sadari kelemahanmu.
Jadilah karang yang kokoh, elang yang perkasa, paus yang besar, pohon yang menjulang dengan akar menghujam, melati yang senantiasa mewangi, mutiara yang indah, kupu-kupu, atau apapun yang kau mau. Tapi, tetaplah sadari KEHAMBAANMU

Jumat, 01 Februari 2013

The Pieces of Oldies Goldies from Solo: Pasar Antik Windudjenar

Diposting oleh adellia dian di 18.00 0 komentar
Kalau di 2 postingan saya sebelumnya saya mengajak teman-teman untuk melihat kekayaan tradisi leluhur dalam rupa batik, kali ini saya akan membawa kalian berkelana ke taun 70'an atau 80'an ... jaman di mana eyang kakung dan eyang putri masih seumuran saya sekarang.... Here we go Pasar Windudjenar... 

Sebelum sampai tempat ini, saya sempat bingung, stasiun TV yang meliput tempat ini menyebutnya Pasar Triwindu, tapi sampai di Solo, orang bilang pasar antik itu namanya Windudjenar. Ternyata, setelah tanya sana-sini Pasar Windudjenar adalah nama baru dari Pasar Triwindu, mulai berganti nama sejak tahun 2008 (yang orang Solo tolong koreksi ya kalau salah).
Sebetulnya paling cocok ke tempat ini pakai busana vintage sambil naik sepeda onthel supaya kesan oldies nya lebih dapet.


Dilihat dari entrance gate nya sepintas mirip Pasar Seni Ancol, Jakarta atau Pasar Seni Gabusan, Yogyakarta. Yang unik ada sepasang patung cewek cowok berbusana adat Jawa yang menjadi icon utamanya, masyarakat Jawa biasa mengenal sepasang patung ini dengan nama patung loro blonyo (kalo nggak salah melambangkan sepasang pengantin gitu).

Di sini barang yang dijual super duper antik, mulai dari barang-barang tua jaman 70-80 seperti gramophone, piringan hitam, mesin ketik tua, nenek moyangnya kamera DSLR, sampai kotak penyimpan cerutu dan koleksi foto-foto tua pun ada disini.




Tuh liat lucu-lucu kan barangnya...

Tempat ini cocok sekali untuk anda pecinta nuansa vintage seperti saya, nggak harus beli, sekedar foto-foto pun sudah sangat memuaskan hati. Tapiiii... kalau mau belanja di sini ada 1 tips nya, harus tega nawar. Yup barang-barang antik di sini dijual dengan harga yang tidak murah, namun anda harus jeli memilih mana barang yang benar-benar antik, mana barang yang dibuat seolah-olah antik. Jujur saya masih bingung membedakannya, kayaknya harus ngajak kolektor barang antik nih kalo mau belanja. Nah barang yang seolah-olah antik, konon bisa anda tawar sampai setengah harga :)

Oya, di Pasar Windudjenar ini kita juga masih bisa menemukan sistem dagang jaman dulu, alias sistem barter (hayooo diinget-inget lagi pelajaran sejarah). Jadi anda bisa menukarkan koleksi barang antik yang anda punya, dengan koleksi barang antik yang ada di sini (tentunya dengan kesepakatan bersama antara anda dan si pemilik toko). Ribet-ribet unik ya sistemnya ^^



Nah, kalo teman-teman kurang suka sama koleksi vintage, di salah satu sudut pasar ini juga menyediakan koleksi oldies goldies ala Indonesia, seperti arca (yang bagus untuk ornamen taman atau rumah) dan juga patung-patung kayu (yang di atas itu saya namakan patung sejuta wajah nusantara, hoho nggak tau istilah aslinya apa) ^^v.... Kalau beruntung, teman-teman bisa menemukan pusaka asli Kraton Kasunanan Surakarta juga disini. Biasanya pusaka-pusaka itu adalah pemberian kerajaan kepada para abdi dalem nya yang kemudian setelah sang abdi dalem nya meninggal, dijual oleh anak cucunya ke pasar ini (harganya sangat-sangat lumayan). Hmmm... tapi sebetulnya sayang juga kalau dijual, mending dikembalikan ke Kraton jadi pusaka bangsa bisa abadi, terjaga dan tersimpan selalu.

Gimana, tertarik dengan tempat ini?
Langsung aja meluncur ke Jalan Diponegoro, daerah Keprabon, persis di depan Pura Mangkunegaran Solo... masuknya gratis, nggak belanja pun tak masalah, yang penting selalu jaga kebersihan yaaa ^^v.....koleksi-koleksi antik nan cantik ini menanti anda mulai pukul 9 pagi s/d pukul 6 sore.
Cuma satu hal yang saya sayangkan dari Pasar Windudjenar ini, udah saya susuri seharian dari ujung ke ujung ternyata saya nggak berhasil menemukan toko yang menjual "calon pacar antik" :D

Okeee... terakhir coba teman-teman artikan tulisan Jawa yang saya temui di pasar ini, selamat berpetualang :)





Kamis, 31 Januari 2013

Solo Heritage Escape: Kampoeng Batik Laweyan

Diposting oleh adellia dian di 08.48 0 komentar

Setelah pagi hingga siang hari saya menghabiskan waktu meng-explore Museum Batik House of Danar Hadi, sorenya saya memutuskan untuk berkunjung ke Kampung Batik Laweyan. Tempat ini direkomendasikan oleh dosen saya yang kebetulan asli Solo, beliau merekomendasikan beberapa tempat, namun karena saya mencari tempat yang mengandung unsur heritage dan fashion, maka ke tempat inilah kaki saya melangkah. Sebetulnya di Solo sendiri ada dua Kampoeng Batik, yaitu Kampoeng Batik Laweyan dan Kampoeng Batik Kauman. Kali ini ke Laweyan dulu ya...





Kawasan Kampung Batik Laweyan ini letaknya agak masuk ke sebuah jalan kecil, sepintas memang tampak seperti perumahan warga biasa.... 

malah sepintas, lokasinya mirip perumahan warga yang ada di belakang Kraton Yogyakarta.... di sini saya justru tertarik dengan arsitektur rumah-rumah warga yang mengesankan tempo doeloe...
Untuk aktivitas perbatikan sendiri, menurut warga yang saya temui tadi, bentuknya lebih ke arah industri batik rumahan, jadi konsepnya "rumahku galeriku". Tapi uniknya adalah, di sini kita bisa belajar alias les membatik, beberapa industri rumahan di sini sempat menerima kunjungan anak-anak sekolah bahkan rombongan wisatawan manca negara yang tertarik untuk belajar membatik. Wah seru sekali ya, kalau di Museum Danar Hadi kita bisa melihat proses membatiknya, di Laweyan kita bisa mempraktekkan prosesnya langsung. Sebetulnya ada dua tempat yang direkomendasikan oleh dosen saya di kawasan ini yaitu Omah Laweyan dan Batik Putera Laweyan.... sayangnya karena saya berkunjungnya sudah hampir maghrib dan perut sudah mulai keroncongan, jadi saya belum berkesempatan mendatangi kedua tempat itu.... next time semoga bisa keputar semuanya yaaa ^^v
Nah yang penasaran sama kawasan ini silahkan datang ke Kampoeng Batik Laweyan yang ada di sepanjang Jalan Sidoluhur, Solo 


Solo Heritage Escape: Museum Batik House of Danar Hadi

Diposting oleh adellia dian di 07.51 3 komentar
Holala...setelah sekian lama nggak produktif nge-blog karena ujian responsi dan sejenisnya... kali ini saya datang membawa cerita baru....
Kali ini saya ingin memuaskan hasrat keingintahuan tentang asal usul batik, yang sekarang kembali menghiasi jagat fashion, so here we go... Surakarta, alias Solo...
Nah berdasar rekomendasi dari seorang teman pecinta batik, tempat yang saya kunjungi pertama adalah Museum Batik House of Danar Hadi, yang terletak di Jalan Slamet Riyadi 261, Solo. Di sini kita akan disuguhkan pemandangan koleksi motif-motif batik kuno yang tidak akan kita temui lagi di pasaran.
Museum ini buka dari jam 9 pagi sampai 03.30 sore.... Dan untuk menikmati salah satu warisan budaya Indonesia ini, kita cukup membayar Rp 25000,00 tapi kalo pelajar/mahasiswa cukup merogoh kocek Rp 15000,00 saja (tentunya dengan menunjukkan student card yang masih berlaku).


Nah ini adalah ruang terdepan dari Museum Batik House of Danar Hadi, kesan mewah dan kekayaan tradisi yang tinggi sangat tergambar jelas di sini. Selama berkeliling kawasan ini, saya ditemani oleh seorang guide, namanya Mas Aryo, umurnya cuma beda 3 tahun dari saya, saya 23... mas nya 26... jadi lumayan seru buat ngobrol-ngobrol.
Dari sini petualangan pun dimulai, pertama kami masuk ke ruang pamer (showroom).... sayangnya selama di showroom pengunjung DILARANG foto-foto. Kata Mas Aryo, aturan itu dibuat untuk menjaga orisinalitas dari koleksi motif-motif batik kuno tersebut. Padahal di sini ada buanyaaaakkk banget koleksinya.... di antaranya ada Batik Belanda, Batik Djawa Hokokai, Batik Cina, Batik Indramayu, Batik Sembagi, Batik Nitik, Batik Jambi, Batik Madura, Batik Banyumas, Batik Cirebon, Batik Garut, Batik Petani, Batik Tuban, Batik Kraton Surakarta, Batik Kraton Yogyakarta, Batik Puro Pakualaman, Batik Puro Mangkunegaran, Batik Sudagaran Solo, dan Batik Sudagaran Jogja... selain itu ada juga koleksi batik kontemporer yang motifnya masih bisa kita temui sampai sekarang. Selama di showroom ini, Mas Aryo nggak cuma nunjukin kain-kainnya aja tapi juga bercerita kenapa motifnya gini kenapa motifnya gitu (magic ya.... mas nya bisa hapal detil asal usul semua motif) sayangnya karena nggak boleh foto-foto jadi agak susah ya saya jelasin motif-motifnya, intinya sih biasanya keseharian masyarakat di masa itu akan mempengaruhi motif batiknya, Batik Cina misalnya kan Chinese punya shio-shio jadi biasanya motifnya binatang-binatang kayak burung atau naga.... kalo Batik Kraton Solo cenderung lebih halus motifnya daripada Batik Kraton Jogja karena mencerminkan orang-orang Solo yang pembawaannya juga jauh lebih halus.
Menurut Mas Aryo semua koleksi motif batik di museum ini udah nggak ada lagi dimanapun, kecuali Batik Kontemporer yang sekarang memang sedang booming lagi. Tapi PT.Danar Hadi menerima pesanan dari para kolektor batik yang ingin memiliki replika dari kain batik kuno ini, harga satu replika dibandrol ratusan juta hingga milyaran rupiah, fantastis.... salah satu pemilik replika motif Batik Sudagaran adalah seorang pejabat Bank Indonesia.
Oya, selain ada koleksi kain batik, di museum ini juga dipamerkan alat-alat yang biasa dipergunakan untuk mBatik... seperti canting dan lilin batik, juga ada Flowchart of Traditional Process of Mbatik yang saya akui sangat-sangat rumit untuk dibayangkan, untungnya di paket kunjungan ini kita bisa melihat langsung proses membatik itu seperti apa.
Nah sebelum bisa melihat-lihat para ibu membatik, saya diajak berkunjung ke bangunan utama di lokasi ini.... namanya Ndalem Wuryaningratan... Dalam bahasa Jawa Ndalem itu berarti rumah, sedangkan Wuryaningrat adalah nama menantu Sultan Pakubuwono X yang pernah menghuni tempat ini, jadi kira-kira Ndalem Wuryaningratan itu artinya kediaman keluarga Wuryaningrat.


Ini adalah salah satu sudut terluar dari Ndalem Wuryaningratan, overall bangunan ini bergaya arsitektur Belanda bercampur ornamen-ornamen Jawa. Di sini pengunjung bebas untuk mengabadikan foto. Ruang pertama di dalam bangunan ini adalah Pendopo, semacam teras yang super luas gitu deh, selanjutnya ada ruang tamu yang super duper luas juga namanya Dalem Ageng


Nah ini dia si ruang tamu super lega yang disebut Dalem Ageng itu, bayangin para pelayan raja itu kalo mau menghadap harus jalan ndodhok (setengah jongkok) dari ujung ke ujung. Seperti kita lihat, di kiri dan kanan ruang ini ada semacam pintu. Nah kalau masuk lewat pintu itu kita bakal ketemu sama ruang santai yang disebut gandhok, gandhok ini menjadi akses utama dari Dalem Ageng menuju kedua kamar (senthong) yang ada di sisi kiri dan kanan. 
Sejujurnya ruangan kamar (senthong) sangat menarik perhatian saya, karena nuansa kamar yang putih dan temaram, furniture nya ada yang terbuat dari marmer putih keabuan, serta ukuran tempat tidur model belanda yang cukup besar lengkap dengan tirai atau kelambu nya. Namun sayang, saya tidak cukup nyali bahkan untuk mengambil foto ruangannya saja. Ketika saya masuk ke Ndalem Wuryaningratan ini, semua lampu di ruangan dalam kondisi mati, dan baru dinyalakan ketika ada pengunjung masuk... sepertinya kalau malam hari pun hanya lampu di pendopo dan Dalem Ageng saja yang dinyalakan. Wajar saja bila aura yang saya rasakan selama di dalam senthong cukup kuat dan berbeda. Mas Aryo bilang, sebelum dibeli oleh PT.Danar Hadi sekitar tahun 2000-an rumah besar milik menantu sultan ini memang sudah tidak berpenghuni dan sempat tidak terurus. Dan disini saya ditantang oleh Mas Aryo, "Mbak, kalau panjenengan mau menginap di sini, semalam saja tidur di kamar ini, saya kasih uang deh." Di Ndalem Wuryaningratan ini juga ada ruang makan yang sangat megah, masih lengkap dengan perkakas jamuan makannya.....
Meninggalkan Ndalem Wuryaningratan lengkap dengan kemegahan dan kekuatan auranya, sekarang kita berlanjut ke ruang workshop. Ya, di sini kita bisa melihat proses membatik dari tahap ke tahap, hanya saja hawanya agak sedikit sumuk (gerah) karena kan proses membatik itu memang banyak membutuhkan pembakaran, panas-panas gitu.


Ada 9 tahapan dalam proses membatik tradisional.... setelah dipola, kain akan dicuci kemudian dilumuri semacam starch / kanji yang fungsinya membuat kain menjadi kaku, proses ini disebut NGANJI. Setelah itu untuk menghaluskan, permukaan kain akan dipukul-pukul menggunakan palu (NGEMPLONG). Kemudian masuk ke tahap waxing (pelumuran lilin), untuk tahap awal ada dua proses per-waxing-an yang pertama NGLOWONG, yaitu menutup bagian kain yang akan diwarna coklat, dan NEMBOK, yaitu menutup bagian kain yang akan diwarnai selain coklat. Nah kalau pernah dengar istilah batik canting dan batik cap, dari sinilah asalnya. NGLOWONG dan NEMBOK bisa dikerjakan menggunakan canting (proses pengerjaan lebih lama, karena bagian yang ditutup lumayan kecil dan sempit, biasanya detail motifnya lebih rumit) atau untuk permukaan yang lebih luas / motif yang tidak terlalu detail biasanya menggunakan alat semacam setrikaan arang yang panas gitu untuk melumurkan lilinnya, jadi kayak orang ngecap gitu deh (saya sempat mencoba teknik cap, tidak terlalu rumit tapi alat yang mirip setrikaan itu lumayan berat dan panas). Setelah di-cover lilin, kain akan dicelupkan ke dalam larutan pewarna non-coklat (kebetulan kain yang saya amati ini akan diwarnai biru dan coklat), proses ini disebut MEDEL. Selesai di MEDEL, lapisan lilin NGLOWONG tadi akan dibersihkan dengan cara dikerok sedikit-sedikit menggunakan batang logam, maka dari itu prosesnya dinamakan NGEROK. Habis ini, kain akan dicelupkan ke pewarna coklat, tapi sebelumnya bagian kain yang akan tetap diwarnai biru akan di-waxing lagi, disebutnya MBIRONI, baru deh kalin dicelup ke pewarna coklat ( NYOGA). Tahap akhirnya, kain tinggal direbus di dalam air mendidih untuk menghilangkan seluruh lapisan lilinnya, bagian ini dinamakan NGLOROD.
Pekerja batik di sini mayoritas ibu-ibu, bahkan ada juga yang usianya sudah uzur tapi jago ngegambar motif batik...amazing....
Nah jadi teman-teman semua tau dong kenapa kita harus dan wajib melestarikan batik, karena batik bukan hanya selembar kain, tapi memiliki filosofi yang berbeda-beda di setiap motifnya, plus teknik pembuatannya yang super duper rumit, menggambarkan kerja keras yang luar biasa untuk menghasilkan suatu masterpiece yang sangat indah. Itu juga alasannya saya lebih suka koleksi batik lawasan daripada batik kontemporer, karena motifnya itu udah susah dicari plus kalau batik kontemporer biasanya proses pengerjaannya sudah lebih modern.
Di bagian akhir dari jalan-jalan seharian di Museum Batik House of Danar Hadi ini pengunjung ditawarkan wisata belanja produk-produk karya PT.Danar Hadi. Meskipun Butik Batik Danar Hadi sudah ada di kota-kota lain, di antaranya Bandung dan Jogja, namun dari pengamatan saya koleksi yang dijual di sini jauh berbeda dan harganya pun lumayan... lumayan tinggi maksudnya....
Well, itulah akhir kunjungan saya di Museum Batik, eits, tapi saya masih punya cerita tentang tempat-tempat lain di Solo, tunggu update-an selanjutnya yaaaa.... ^^v

Jumat, 18 Januari 2013

Diposting oleh adellia dian di 03.11 0 komentar

Selasa, 15 Januari 2013

Waiting for My Gula Pasir

Diposting oleh adellia dian di 04.47 0 komentar
"Gula jawa ternyata sudah berubah menjadi gula pasir" .... pastinya kita tak asing lagi dengan kalimat itu. Ya, kalimat singkat yang diucapkan oleh B. J. Habibie kepada almarhumah istrinya ,Ibu Ainun, berhasil diperankan secara apik oleh Reza Rahardian dan Bunga Citra Lestari.
Habibie & Ainun is a must watch for all Indonesians!!! I agree with that statement. Animo masyarakat yang sangat tinggi terhadap kisah romansa salah satu mantan orang nomor satu di Indonesia itu, terlihat jelas ketika aku harus menanti antrian panjang di salah satu ticket counter Blitzmegaplex PVJ. Dan saat malam harinya pintu teater dibuka, aku melihat beragam orang berbondong-bondong. Banyak pasangan-pasangan muda, namun ada juga satu keluarga komplit (opa, oma, suami, istri, bahkan anaknya yang masih kecil pun turut dibawa serta). 
Malam itu, aku datang bersama papa dan mama... well, pasti banyak yang terheran-heran umur hampir 23 tahun kok ke bioskop sama ortu, nggak sama pacar atau minimal teman. Yup, khusus untuk film yang satu ini, dari jauh-jauh hari mama sudah request agar aku jangan nonton dulu, "temenin mama sama papa nonton," begitu kata beliau. Alasannya simple, karena mama ingin papa semakin romantis setelah nonton film itu, dan supaya aku menjadikan Pak Habibie sebagai role model dalam memilih pacar. Nampaknya tak hanya mama yang punya alasan seperti itu, mayoritas penonton pun memiliki alasan serupa, terutama para wanita. Meskipun ada sih penonton pria yang murni ingin nonton dari keinginan sendiri, tapi banyak juga yang "digeret-geret" sama si cewek gara-gara si cewek ingin sang pacar mencontoh Pak Habibie.
Tapiiiiii..... seperti biasa, otakku sering berpikir sesuatu yang liar, anti mainstream kata orang. Tersirat di benakku, andai banyak wanita yang ingin pasangannya memperlakukan mereka semanis cerita Habibie & Ainun, lantas adakah satu di antara mereka yang ingin menjadi seperti Ainun????
Teringat celetukan seorang teman: Good boy just for good girl, and bad boy just for bad girl...hmm, jangan salah kaprah ya, pengertiannya bila menginginkan pasangan yang terbaik, maka kita pun harus berusaha menjadi pribadi yang baik. Malu nggak sih kalau secara nggak sadar kita "menuntut" pasangan untuk selalu menjadi yang terbaik di mata kita tanpa memberi timbal balik yang setimpal dengan menjadi yang terbaik di matanya.....
Maka jadilah tebu yang berkualitas bila ingin menjadi gula pasir di hati pasangan kita masing-masing  °\(ˆ▽ˆ)/°\(^▿^)/°

 

Life is a mixture between blueberry & cotton candy Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos